Latest Updates

Mengenang Misteri kematian Marsinah


Marsinah, buruh wanita dibunuh tahun 1993. Dia tewas mengenaskan dengan kemaluan ditembak. Marsinah memimpin aksi pekerja PT Catur PutraSurya untuk mendapatkan kenaikan gaji dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari.
Hal ini sesuai dengan instruksi Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th.1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok.

Namun aksi itu membuat perusahaan panas. Gaji memang naik, namun akhirnya Marsinah dan teman temannya harus berurusan dengan aparat Kodim. Rekan Marsinah, Uus (43), membeberkan hilangny Marsinah hingga ditemukan tewas. Kejadiannya bermula saat Kodim memanggil 10 orang buruh PT CPS yang aktif berdemo. Marsinah yang mendengar hal itu segera menyusul teman-temannya ke Kodim. "Saat kami datang ke kantor Kodim, ternyata ada teman kami yang disiksa," tutur Uus saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (30/4).

 "Kamu tidak usah demo lagi, kamu harus keluar dari pabrik tidak usah bekerja. Kamu tahu siapa yang ada di dalam itu. Dengar suaranya, dia itu sekarang disiksa. Kalau tidak mau, kalian semua nasibnya itu seperti yang ada di dalam," kata Uus menirukan salah satu aparat Kodim waktu itu. Mendengar jeritan siksaan dari teman seperjuangan, Marsinah tidak gentar. Meski mendapatkan ancaman, akan diculik dan disiksa Marsinah terus melakukan pertemuan dan mendampingi teman- temannya.
Tapi menurut Uus sebenarnya para buruh pun sudah puas dengan keputusan perusahaan yang menaikan gaji. Bahkan Marsinah meminta teman-temannya giat bekerja karena perjuangan sudah selesai.  "Wes yo rek, perjuangane awak dewe wes mari. Upahe awak dewe wes diundakno. Saiki, aku titip. Ayo kerjo sing temen, gawe masa depane awak dewe sesuk (Sudah iya rek, perjuangan kita semua sudah selesai. Upah kita sudah dinaikan. Sekarang, saya titip. Ayo kerja yang benar, buat masa depan kita)," kata Uus menirukan perkataan Marsinah.

Dari pertemuan yang dilakukan di salah satu tempat kos dekat gapura Siring Kuning, Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Marsinah dan tim buruh lainnya membubarkan diri. "Sekitar pukul 10 malam (22.00 WIB), kita selesai pertemuan. Mbak Marsinah saat itu pamit makan ke seberang Jalan Raya Porong.

Sedangkan kami, kembali ke kos masing-masing di Desa Siring," ujar dia. Dari perpisahan itu, ternyata itu pertemuan Uus danburuh lainnya dengan Marsinah, yang terakhir. Sebab, mereka semuanya selama tiga hari mengira, kalau Marsinah pergi untuk pulang ke kampung halamannya di Nganjuk. Bahkan, buruh juga mendatangi kantor Kodim setempat, untuk mencari keberadaan Marsinah selama tiga hari. "Setelah tiga hari kami mencari keberadaan mbak Marsinah. Baru pagi hari (8 Mei 1993), kami mendapat kabar, mbak Marsinah ditemukan dalam keadaan meninggal penuh luka di hutan Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk," kata Uus yang sudah tampak lemas. Mendengar kabar itu, Uus dan seluruh karyawa pabrik seolah tidak percaya. Mereka hanya bisa menangis dan larut dalam kesedihan. Hingga pagi harinya (9 Mei 1993), Uus dan sejumlah rekannya memutuskan untuk melayat sekaligus memastikan kebenaran kabar tersebut ke rumah Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. "Setelah mendapat kabar, beberapa teman kami, datang kesana untuk melayat dan melihat apakah itu memang Mbak Marsinah teman buruh kami? Ternyata saat didatangi, memang benar," cerita Uus. Kematian Marsinah berbuntut panjang. Aparat membentuk Tim Terpadu kemudian menciduk 8 orang petinggi PT CPS. Penangkapan ini dinilai menyalahi prosedur hukum. Tak ada yang tahu kalau mereka dibawa ke markas TNI. Mereka disiksa untuk mengaku telah membuat skenario membunuh Marsinah. Pemilik pabrik PT CPS Yudi Susanto ikut dicokok. Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Menurut penyidikan polisi, Marsinah dijemput oleh pegawai PT CPS bernama Suprapto, lalu dihabisi Suwono, Satpam PT CPS setelah disekap tiga hari. Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun. Mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni).

Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak. Muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah direkayasa. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah. Setelah 23 tahun sulit sekali mengungkap kasus ini. Saat mendatangi Kodim Sidoarjo, tak ada lagi yang mau bicara. "Mereka sudah tak ada lagi di sini. Sudah pensiun," kata seorang anggota Kodim pada merdeka.com.

Sementara itu KontraS tak henti-hentinya memintaKomnas HAM membuka ulang kasus ini. Presiden Gus Dur dan Megawati sudah meminta kasus Marsinah diungkap total.

Hingga hari ini KontraS menyebut kematian Marsinah masih menjadi teka teki.

Pemimpin "GILA" Dan "BAJINGAN" Indonesia


Ketika Jokowi ‘Gila’ dan Ahok ‘Bajingan’, Skenario Singapura atas Indonesia Gagal 

(Kompas.com) Naiknya Jokowi menjadi RI-1 adalah sesuatu yang ajaib (miracle). Tak banyak pihak yang yakin jika Jokowi berhasil menjadi Presiden. Menjelang Pilpres 2014 lalu, Singapura, negara-negara Eropa dan Amerika, sangat yakin bahwa Prabowolah yang menjadi penguasa Indonesia selanjutnya. Prediksi itu membuat Singapura lebih banyak diam, kurang agresif dan enggan ikut ‘bermain’ di Pilpres 2014 lalu. Dalam strategi dan kebijakan politik luar negeri Singapura,  Indonesia diprediksi hingga sepuluh tahun ke depan, tidak akan banyak berubah. Dalam analisis para pengambil kebijakan politik negeri Singa itu, Prabowo tidak akan mampu membuat terobosan baru untuk memajukan Indonesia. Hal itu karena orang-orang di sekitarnya dan lebih-lebih para elit pendukungnya, adalah orang-orang lama yang terbiasa dengan gaya hidup priyayi dan akrab dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Jika keadaan Indonesia seperti itu, maka Singapura tetap jaya dan posisinya sebagai number one pengendali ekonomi ASEAN tak tergoyahkan dan tanpa takut disaingi oleh Indonesia. 

Selama ini, Singapura sangat nyaman dan menikmati kemakmuran yang setara dengan negara Barat. Salah satu penyebabnya adalah karena kebodohan negara tetangganya, Indonesia. Kendatipun Singapura adalah negara yang miskin sumber daya alam, namun berkat kelihaiannya, Singapura berhasil keluar sebagai negara maju dengan pendapatan perkapita $ 40.000 dollar per tahun. Sekarang Singapura dikenal sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di dunia, pusat bisnis, pusat teknologi dan tempat penukaran mata uang asing terbesar ke empat di dunia dan menjadi negara yang terkenal inovatif dan efisien dalam pengelolaan ekspor dan pariwisata. Penduduk yang menetap di Singapura, sebagian kaum eksekutif elit dari berbagai perusahaan multinasional kelas dunia. 

Bagi kaum kaya dan para pejabat Indonesia, Singapura adalah surga belanja, berobat dan jalan-jalan. Ada 2,5 juta wisatawan Indonesia dari total 15 juta wisatawan yang disedot oleh Singapura setiap tahun. Para pejabat dan orang-orang kaya Indonesia menjadikan Singapura sebagai tujuan wisata luar negeri yang utama. Mereka umumnya tinggal di hotel-hotel mewah atau tinggal di apartemen dan kondominium yang telah mereka beli. Fakta menunjukkan bahwa sepertiga pemilik property di Singapura adalah orang Indonesia. Singapura dalam dua dekade terakhir telah berhasil menyulap berbagai perguruan tingginya menjadi yang terkemuka di dunia. Hal itu membuat 20 ribu pelajar Indonesia memilih menempuh studi di berbagai universitas Singapura. Selain itu, Singapura telah berhasil menyulap berbagai rumah sakitnya menjadi pusat pengobatan terkemuka di Asia. Hal yang kemudian membuat ratusan ribu masyarakat Indonesia berbondong-bondong ke Singapura setiap tahun untuk berobat. Berkat kemajuan peralatan navigasinya, Singapura berhasil memperdayai Indonesia untuk menguasai zona terbang  yang mencakup wilayah Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, 50% pasien asing di Singapura berasal dari Indonesia. Itu berarti bahwa duit Indonesia terus mengalir ke Singapura tiap tahun. Karena Singapura sangat melindungi para investornya, maka tak heran jika  ada 4 ribu triliun Rupiah duit WNI diparkir di sana, termasuk aset para koruptor. Bagi Singapura yang tidak mempunyai sumber kekayaan alam, aset koruptor yang disimpan di negaranya merupakan investasi penting. Itulah sebabnya Singapura tidak pernah mau menandatangi perjanjian ekstradisi para koruptor dari negerinya ke Indonesia. 

Situasi politik yang kurang stabil di Indonesia, justru diinginkan dan akan dimanfaatkan betul oleh Singapura. Jika terjadi huru-hara yang mengerikan di Indonesia, pasti tujuan pertama WNI untuk menyelamatkan diri adalah Singapura. Selain karena letak geografisnya  yang dekat dengan Indonesia, juga tingkat keamanan super tinggi yang dijamin oleh pemerintah Singapura. Fakta-fakta pesta pora Singapura ketika Indonesia dilanda krisis dapat dilihat dari sejarah kelabu Indonesia tahun 1998. Ketika Indonesia dilanda krisis 1997-1998, Singapura benar-benar untung besar di tengah penderitaan Indonesia ketika itu. Pada saat itu, Singapura berhasil menjarah aset-aset Indonesia yang kemudian mendatangkan keuntungan luar biasa bagi negeri itu. Aset-aset Indonesia yang berhasil diembat oleh Singapura antara lain, Telkomsel, Indosat, BII, Bank Danamon, dan lain-lain. Lewat Bank Internasional Indonesia (BII), Singapura untung Rp 8,15 triliun karena menjual sahamnya ke Maybank senilai Rp 13,5 triliun. Padahal  ketika Temasek membeli BII pada tahun 2003, Temasek hanya mengeluarkan modal Rp 2,2 triliun. Hal yang sama dengan bank Danamon. Nilai jual bank Danamon sekarang sudah mencapai Rp 50 triliun. Padahal ketika Temasek membelinya pada tahun 2003 lalu, hanya senilai Rp 3,08 triliun.  Tentu saja Singapura sangat girang  jika Indonesia bangkrut, karena akan menambah duit WNI yang tersimpan di perbankannya. Kesuksesan Singapura mempecundangi Indonesia pada krisis tahun 1998 itu, dicoba diulangi kembali pada tahun 2015, ketika Jokowi telah menjadi RI-1. Singapura kembali mencoba untuk menggoyang perekonomian Indonesia dengan berbagai cara. Salah satu ekonom ternama Nanyang Business School Singapore, Lee Boon Keng, melempar isu menakutkan dengan mengatakan bahwa bahwa nilai tukar rupiah bisa ambruk hingga Rp 25 ribu/dolar AS jika Federal Reserve mulai melakukan normalisasi kebijakan moneternya. Pernyataan Lee Boon Keng itu, kemudian menimbulkan kekhawatiran di masyarakat Indonesia. Di bulan Juli-Agustus 2015, masyarakat Indonesia ramai-ramai membeli dollar Amerika. Akibatnya, nilai tukar Rupiah berhadapan dengan dollar pada akhir September 2015 hampir menyentuh angka Rp. 15.000 Rupiah per dollar. Nah keadaan inilah yang diinginkan Singapura. Jika Indonesia bangkrut, lalu warga kaya Indonesia akan khawatir dan dipastikan terus memarkirkan dananya ke Singapura. Aksi busuk yang dilakukan Singapura tidak hanya sekali saja seperti yang dilakukan oleh Lee Boon Keng di atas. Pada 17 Juni 2015, Business Times, koran milik Strait Times yang dikelola pemerintah Singapura secara terang menurunkan sebuah artikel berjudul ‘Indonesia, Malaysia at risk of repeating 1997-98 meltdown”. Isinya kurang lebih menegaskan bahwa Indonesia bersama Malaysia akan mengalami krisis parah seperti pada tahun 1998. Jelas isu ini sengaja dilempar dengan motif ekonomi. Karena jika Indonesia terkena krisis, Singapura bisa kembali berpesta-pora menjarah aset-aset Indonesia yang luar biasa dan vital itu. 

Skenario Singapura untuk kembali membangkrutkan Indonesia di tahun 2015, ternyata gagal berkat kejelian, keuletan dan optimistis besar Jokowi. Singapura rupanya lupa bahwa Jokowi yang berhasil mengalahkan Prabowo, didukung luar biasa jutaan rakyat Indonesia dari dalam dan luar negeri. Saat Pilpres 2014 lalu, jutaan rakyat dilanda euforia gegap-gempita rela menggerakkan kaki-kaki mereka menuju kotak suara dan antre untuk memberikan suaranya kepada Jokowi. Daya pikat Jokowi sebagai ‘sang harapan baru’ (new hope) sebagaimana ditulis oleh majalah Times itu, adalah harapan baru rakyat Indonesia yang sudah lama dihina negara lain termasuk negara kecil Singapura. Kini mereka ingin perubahan, ingin merubah nasib lewat seorang pemimpin ndeso yang merakyat, bersih dan punya impian besar ke depan. Kemenangan Prabowo yang sudah di depan mata pun, diambil alih secara heroik oleh Jokowi lewat konser dua jari di Senayan dan blunder kata ‘sinting’ Fahri Hamzah.  

Sesaat setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden, maka saat itu juga maka perang heroik ala Jokowi mulai. Lewat ‘Jenderal’ wanita bermental baja, Susi Pudjiastuti, Jokowi langsung menghajar perusahaan-perusahaan ikan di Thailand, Singapura, Philipina, Singapura, China, Vietnam yang banyak bergantung pada hasil ikan Indonesia. Negara-negara itu sekarang menjerit. Hingga kini sudah lebih 700 kapal milik negara asing telah ditangkap dan ditenggelamkan oleh Menteri Susi. Jokowi melancarkan perang ‘gila’ yang bersejarah untuk menyelamatkan kekayaan alam Indonesia yang bernilai hampir 200 triliun per tahun dari pencurian ikan. Wajar jika ada isu bahwa Menteri Susi mau disuap 5 triliun agar mau mundur dari kursi menteri kelautan. Integritas Menteri Susi pun telah meluluhlantahkan para mafia ikan di dalam negeri yang sebelumnya telah lama berpesta-pora atas hasil kekayaan laut Indonesia. 

Pun Jokowi berani membubarkan Petral yang tidak efisien yang berkantor di Singapura, membekukan PSSI dan melawan berbagai mafia pangan. Ketertinggalan jauh Indonesia dari Singapura semakin melejit semangat ‘gila’ Jokowi untuk memacu pembangunan infrastruktur. Jokowi kemudian secara masif membangun jalan kereta api, jalan tol, jalan negara, tol laut, pelabuhan udara dan laut. Dibangunnya infrastruktur yang menghubungkan seluruh pulau-pulau besar di Indonesia jelas  akan membuat geliat  perekonomian Indonesia kembali lancar. Biaya-biaya akan banyak terpangkas, waktu bisa lebih diperkirakan dan jauh lebih efsien yang dampaknya ekonomi akan berkembang. 

Dalam impian Jokowi, jika waktu bongkar muat  (dwelling time)sudah setara efisiennya dengan Singapura, maka goyahlah perekonomian negara itu. Ketika efisiensi bongkar muat tercapai dan setara dengan Singapura saja, maka bisa dipastikan julukan pelabuhan di Singapura sebagai pelabuhan tersibuk akan pelan-pelan pudar. Selain itu, ketika infrastruktur pada sektor pariwisata selesai, maka wisatawan luar akan banyak tersedot ke Indonesia yang kaya akan budaya sementara Singapura mulai pudar yang miskin budaya. 
Kemudian dalam hitungan tahun ke depan, Jokowi akan kembali mengambil alih penguasaan zona terbang yang sekarang dikuasai oleh Singapura.  Jokowi jelas geleng-geleng kepala dan tidak habis berpikir, mengapa Indonesia setiap kali terbang di wilayah sendiri harus lapor ke otoritas penerbangan Singapura. Ini jelas benar-benar telah menginjak injak harga diri bangsa. Gebrakan hebat Jokowi dalam membangun infrastruktur, membasmi dan menghukum gantung para pengedar narkoba dan melawan para koruptor mulai menunjukkan hasil. Lewat berbagai kebijakan memangkas birokrasi yang mempermudah investasi, Indonesia kini menjadi idola baru didunia investasi dan bukan lagi singapura. Sebagai tindak lanjut dari julukan idola itu, Jokowi sekarang terus menyiapkan Bandar udara Soekarno Hatta dengan melipatgandakan kapasitasnya, membuka berbagai pelabuahan udara lain beskala dunia. Pelabuhan laut khusus barang Sei Mangke bertaraf internasional di Sumatera Utara, adalah salah satu upaya menyaingi Singapura di selat Malaka. 

Ketika ekonomi Indonesia bangkit, maka akan diikuti oleh kekuatan militer yang hebat. Jika militer Indonesia kuat, maka bangsa lain seperti Singapura dan Malaysia tidak lagi memandang remeh Indonesia. Sekarang, dengan anggaran yang masih minim, Indonesia sudah bisa menjadi negara dengan kekuatan militer terkuat di ASEAN dan urutan terkuat nomor 12 di dunia. Bisa dibayangkan jika Undang-undang Tax Amnesty jadi disahkan, maka ada kemungkinan duit WNI sebesar 4.000 Triliun di Singapura dan 11,4 ribu Triliun di seluruh dunia akan kembali ke Indonesia. Itu jelas  akan membuat pertumbuhan ekonomi dalam negeri melonjak tinggi di atas 12%, mengalahkan India dan Cina. 

Sepak terjang Jokowi di kancah nasional, terus diikuti oleh Ahok di ibu kota Jakarta. Ahok jelas tidak keberatan ketika ada sebuah buku berjudul: “Ahok Sang Pemimpin Bajingan” karya Maksimus Ramses Lalongkoe dan Syaefurrahman Al-Banjary menjuluki Ahok dengan julukan ‘bajingan’. Dalam buku itu, dibeberkan bagaimana Ahok sebagai pemimpin ‘bajingan’ dalam tanda petik menjadi pemimpin para bajingan-bajingan di Jakarta. Gaya Ahok dalam memimpin ibu kota Jakarta memang luar biasa. Ia sama sekali tidak mengenal takut untuk menggusur pemukiman kumuh di atas tanah negara, melawan para preman, PKL liar, melawan anggota DPRD yang korup dan menegakkan aturan. Ahok dengan kegilaannya dan ‘kebajingannya’, berusaha membangun Jakarta menyaingi Singapura. Impian Ahok untuk mendirikan Rumah Sakit Kanker di Sumber Waras terus menggebu walaupun terus ditentang oleh lawan-lawan politiknya.   Jelas dalam menata wilayah Jakarta, Ahok memang harus gila dan harus ‘bajingan’. 

Kelompok-kelompok yang selama ini nyaman berpesta-pora atas uang APBD Jakarta terus menembak dan menyerang Ahok. Padahal misi besar Ahok-Jokowi adalah menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota standar dunia (the world class city). Impian untuk membangun Giant Sea Wall di Teluk Jakarta agar Jakarta tidak tenggelam menjadi misi paling besar Ahok. Jika impian itu menjadi kenyataan dalam hitungan tahun ke depan, maka Jakarta akan menyaingi Singapura dengan segudang fasilitas standar dunia. Kelak, jika semuanya sudah ada di Jakarta, maka rakyat Indonesia tidak perlu lagi berobat ke Singapura, tidak perlu studi ke sana karena kualitas yang sama ada di sini. 

Impian gila Jokowi menjadikan Indonesia negara maju bukan hanya mimpi atau isapan jempol. Pada tahun 2030 mendatang, Indonesia sangat berpeluang menjadi negara tujuh besar kekuatan ekonomi dunia mengalahkan Jerman dan Inggris. Berdasarkan riset the economist 2012, Indonesia diramalkan akan menjadi salah satu negara maju dengan pendapatan perkapita 24 ribu dollar As perkapita pada tahun 2050. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 lalu sebesar 4,8 persen,  menjadi salah satu indikator bahwa negara ini memang sedang tumbuh. Bila Indonesia berhasil membangun infrastruktur jalan darat dan laut, berhasil mengelola sumber daya alam dengan efisien, maka Indonesia di mata dunia adalah masa depan. Sebuah investasi yang menarik dan menguntungkan dan akan berperan sangat besar di kawasan. 

Nah inilah yang menakutkan Singapura. Jelas bukan sekarang, tetapi 5-20 tahun lagi. Singapura jelas ketakutan jika kejayaannya hilang sebagai pengendali perekonomian di kawasan ASEAN. Jelas  jika semua telah dimiliki oleh  Indonesia, maka peta penguasaan ekonomi ASEAN bahkan sampai Asia Pasifik akan berada di tangan Indonesia. Maka tak heran jika Singapura mulai berpikir keras bagaimana menina-bobokan Indonesia. Para agen-agen intelijen Singapura terus sibuk berpikir dan sibuk mengeluarkan dana besar untuk membeli pejabat-pejabat yang bisa dibeli supaya melemahkan pemerintahan yang ada. Mereka juga mempunyai koneksi LSM-LSM lapar di Indonesia yang bisa berteriak keras yang terus menyerang pemerintahannya. Singapura berani untuk melemahkan Indonesia karena negara kecil ini dibekingi oleh sekutunya Amerika dan Inggris. Singapura pun belajar dari Israel  di Timur-Tengah yang mampu mendikte negara-negara tentangganya. Caranya, Indonesia terus diganggu dengan menghidupkan isu-isu sektarian, teroris dan radikalisme melalui dana-dana yang disalurkan di berbagai LSM dan ormas-ormas. Singapura bekerja sama dengan Barat akan terus  berupaya agar Indonesia terus ribut, berantem, lemah dan kehabisan energi. Dengam begitu Indonesia sulit fokus memajukan perekonomiannya. Indonesia seperti sejarahnya pada masa lalu, sibuk berkelahi, bertengkar dan lupa membangun bangsanya. Itulah sebabnya pemerintahan Jokowi terus melempar isu bangkitnya PKI. Itulah salah satu cara melawan isu-isu sektarian dan radikalisme yang mungkin ikut dilancarkan oleh bangsa lain. Padahal sebenarnya isu PKI itu hanya taktik pemerintah untuk menghajar ormas-ormas yang berbaju keagamaan. Selama ini pemerintah sulit membubarkan ormas-ormas atau berbagai organisasi itu karena mereka memakai agama sebagai tamengnya. Maka cara menghajarnya adalah melempar isu komunis kepada ormas-ormas itu  sehingga pemerintah punya cara untuk menekuknya atas nama ideologi juga. 

Jika isu-isu sektarian itu berhasil dipadamkan pemerintahan Jokowi, maka pemerintah akan fokus membangun tanpa gangguan. Maka ketika saya melihat etos kerja Jokowi dan Ahok yang luar biasa dalam membangun bangsanya 1-2 tahun ini, saya akan berani menyebut keduanya ‘gila’ dan ‘bajingan’,  dalam tanda petik. Jika kedua orang itu sudah ‘gila’ dan ‘bajingan’ dalam membangun bangsa ini, maka kepada yang lain, diharapkan bangun dari tidur. Jangan hanya terus mengutuki kebodohan, kemiskinan, kemelaratan dan kehinaan bangsa ini. Bangunlah dari tidurmu yang panjang, Singapura sedang mengintai bangsa anda.

Salam Kompasiana,
Asaaro Lahagu


Sumber : http://m.kompasiana.com/lahagu/ketika-jokowi-gila-dan-ahok-bajingan-skenario-singapura-atas-indonesia-gagal_573978a006b0bda707a61d7d

Chairul Saleh



PERTENGAHAN tahun 1965, dalam salah satu sidang kabinet Chairul Saleh bertikai dengan DN Aidit. Waktu itu Chairul adalah Wakil Perdana Menteri III/Ketua MPRS, sedangkan Aidit Ketua PKI (Partai Komunis Indonesia) dan juga Menteri/Wakil Ketua MPRS. Pertikaian meletus karena dalam sidang, Chairul menyodorkan dokumen yang antara lain menyebutkan, pimpinan PKI sedang merencanakan perebutan kekuasaan untuk menggulingkan Presiden Soekarno.
Tentu saja, Aidit membantah tuduhan tersebut. Dengan suara garang dia menolak. Kedua menteri ini, yang berteman sejak masa muda, nyaris baku hantam. “Saking geramnya, Chairul hampir saja mendaratkan tinjunya ke muka Aidit. Para pejabat tinggi yang hadir menyaksikan kejadian ini mencoba melerainya. Kedua menteri tersebut masih tetap ngotot. Dengan wajah geram dan urat leher menegang, Chairul memegang bibir meja dan mau mengangkatnya. Dengan cepat Presiden Soekarno langsung mengetukkan palu yang terdengar sangat keras. Hening sejenak. Dengan ini sidang saya tutup. Semua yang dibicarakan di sini, tak boleh (terdengar) keluar, kata Bung Karno.”
Insiden di atas berlangsung di Istana Bogor. Sebagai kajian kilas balik, peristiwa itu tampil sangat menarik. Pertikaian antara Chairul dan Aidit mengenai rencana pemberontakan PKI sudah muncul di tengah sidang kabinet, yang saat itu dipimpin langsung oleh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi
Babakan ini ikut disebutkan dalam buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial karya sejarawan lulusan UGM Yogyakarta Dra Irna H.N. Hadi Soewito. Buku setebal 398 halaman dengan kulit berwarna merah darah yang mungkin sekali juga bakal segera jadi kontroversial ini diluncurkan dengan bersemangat, disaksikan hadirin yang sebagian besar lanjut usia, di bekas Gedung Stovia, Jakarta, hari Sabtu (1/7/1995)
Hampir delapan tahun lalu naskahnya telah selesai dikerjakan. Tetapi, berbagai penerbit dengan segala macam alasan, menolak menerbitkannya. “Kemudian, baru datang seorang teman lama yang sedia mengulurkan tangan,…sekarang puas sudah hati ini,” kata Irna dengan gembira, meskipun majalah Sarinah tempatnya bekerja, justru sedang diselimuti awan kelabu.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Chairul Saleh bagaikan pusingan roda nasib, mengalir naik turun tanpa henti. Bahwa dia justru mengakhiri perjalanannya setelah mendadak diketemukan meninggal dunia di rumah tahanan militer Jakarta tanggal 8 Februari 1967, ikut membuktikan mengenai misteri yang menyelimuti banyak segi kehidupannya.
Sangat disayangkan, kematian tersebut menyeret segala kabut tentang dirinya ikut terkubur di Karet, Jakarta. Berdampingan dengan kuburan Johanna Siti Menara Saidah, istrinya yang setia mendampingi sejak tahun 1940, meskipun mereka tidak dikarunai keturunan.
* * *
NAMA lengkapnya Chairul Saleh Datuk Paduko Rajo, lahir 13 September 1916 di Sawahlunto (Sumatera Barat). Sebagai anak dokter, dia mendapatkan pendidikan terbaik, siswa sekolah dasar ELS Bukittinggi kemudian melanjutkan di HBS Medan. Menurut kesaksian BM Diah, “Di Medan, hampir setiap hari saya berpapasan dengan orang muda yang bersepeda. Pemuda itu tampan, badannya berisi dan caranya mengayuh sepeda seperti atlet terlatih.”
“Saya mengenal Chairul waktu saya jadi mahasiswa RHS. Pada waktu itu dia Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia,” kata Subadio Sastrosatomo sambil melanjutkan, “Kesan saya, dia selalu memonopoli semangat nasionalisme, sebab dia menilai mahasiswa yang tidak menjadi anggota PPPI bukan nasionalis. Sebagai mahasiswa RHS, jalannya, gayanya selalu menunjukan, ini lho nasionalis.” Sementara SK Trimurti, tokoh wanita pejuang melukiskan, “…penilaian saya, Chairul selalu kurang ajar. Maklum, dia tokoh pemuda dan selalu berjiwa muda.”
Bahwa Chairul tokoh pemuda yang konsisten dalam kata dan tindakannya, nampak menjelang runtuhnya kekuasaan Jepang. Ia mengajak teman-temannya menentang kaum tua yang masih percaya kepada ketulusan sikap Jepang, membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia menolak ikut keanggotaan Badan Persiapan Usaha Pencarian Kemerdekaan Indonesia. Ia juga berada di balik aksi penculikan Bung Karno-Bung Hatta sehari menjelang proklamasi kemerdekaan.
Sumbangan terbesar Chairul mungkin pada keberaniannya mempertahankan pendapat saat perumusan Naskah Proklamasi. Bung Karno, yang (mungkin) mengacu kepada penyusunan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, meminta semua hadirin bertanggung jawab, karena itu mereka harus mencantumkan tanda tangan. Sebaliknya, Chairul dengan tegas menentang. Ia berpendapat, sebagian dari hadirin adalah pegawai Jepang. Bagaimana mungkin, mereka ikut menandatangani proklamasi? Apa sumbangan mereka kepada perjuangan kemerdekaan?
Chairul ngotot mempertahankan pendapatnya. Ia tidak mau berkompromi. Kenekatannya saat itu dalam mempertahankan keyakinan mungkin malahan bisa menggagalkan pembacaan proklamasi. Akhirnya, Bung Karno menyerah. Naskah proklamasi, atas nama bangsa Indonesia, (hanya) ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta.
Pada sisi lain, selaku penentang Konferensi Meja Bundar, Chairul kembali masuk hutan, begitu kedaulatan Indonesia diserahkan. Ia memimpin laskar rakyat dan berjuang melawan Republik Indonesia Serikat. Tahun 1950 Chairul ditangkap Kolonel Nasution, dipenjarakan dan kemudian dibuang ke luar negeri. Dia muncul kembali di Tanah Air, persis ketika Bung Karno sedang menata pemerintahan dengan prinsip Demokrasi Terpimpin.
Kali ini, Chairul dengan sadar menjadi pendukung gigih Presiden Soekarno. Sebaliknya, Bung Karno yang saat itu sedang memperluas basis dukungan politik, memerlukan dukungan massa pemuda yang dikuasai Chairul. Bintang Chairul melesat. Diangkat jadi Menteri Veteran, lalu Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan sampai akhirnya, Wakil Perdana Menteri III. Kecuali itu, jabatan politiknya melonjak, dari Ketua Angkatan 45 diangkat selaku Ketua MPRS.
Dari sekian jejaknya, masyarakat masa kini mungkin tak tahu tekad Chairul membela prinsip negara kepulauan. Konsepsinya mengenai Wawasan Nusantara, di mana batas teritorial secara sepihak ditentukan 12 mil laut (agar semua laut yang ada di antara pulau-pulau jadi wilayah teritorial) langsung diberlakukan pemerintah Indonesia tanggal 13 Desember 1957. Pemikiran Chairul ini baru bisa disahkan tahun 1982 dalam konvensi internasional tentang Hukum Laut di Montego Bay, Jamaika. “Perjuangan tersebut memakan waktu 25 tahun. Saya beruntung mendapat dorongan dari Uda Chairul Saleh. Dari tidak ada sampai tercipta dan diterimanya konsepsi Wawasan Nusantara, sekaligus diterimanya konsepsi baru kita ini,” kata Prof Dr Mochtar Kusuma Atmadja mengenang keteladanan Chairul.
* * *
TETAPI, sejarah sering menyeret seseorang ke arah lain. Pada masa Orde Lama, massa komunis dengan gegap gempita menuding Chairul gembong kapitalis birokrat yang harus dilenyapkan. Namun, dalam masa pancaroba kebangkitan Orde Baru, dia malahan masuk tahanan karena dianggap pendukung Soekarno. Meskipun telanjur mati dalam tahanan (8 Februari 1967) dan tidak sempat diajukan ke depan sidang pengadilan, “…yang dapat saya beritahukan, Bung Chairul tidak terlibat G30S/PKI,” begitu pernyataan Panglima TNI-AD Jenderal Soeharto, ketika secara pribadi mengirimkan ucapan bela sungkawa kepada istri Chairul Saleh.
Pertanyaannya kini, sebagai politikus ulung yang pasti membaca tanda-tanda zaman, mengapa dia tidak mau pindah posisi ketika fajar kebangkitan Orde Baru muncul di cakrawala? Mengapa dia tidak sebagaimana Adam Malik, rekannya sesama tokoh Murba, melakukannya? Mengapa Chairul tidak menjadi tikus-tikus yang berebut meninggalkan kapal karam, seperti kelakuan rekan-rekannya semasa regim Soekarno mulai nampak menyurut?
Analisis tentang ini dengan indah dilukiskan oleh Mochtar Lubis. “…tak ubahnya seperti pahlawan Yunani kuno, melakukan apa yang mereka yakini harus mereka lakukan, karena itulah suratan hidup yang ditentukan para dewata. Mereka tahu yang menanti adalah nista dan maut. Namun, dalam tragedi yang mereka masuki dengan kesadaran, mereka mencapai kebesaran yang tidak sempat diraih semasa (mereka) masih hidup.”
“…di mata saya, sebagai seorang sahabat, dia tampil sebagai tokoh pahlawan tragis,” kenang Mochtar Lubis. Chairul Saleh dengan penuh kesadaran melangkah menjalani nasib yang dipilihnya, karena itulah kewajiban yang harus dilaksanakan. Inilah puncak tragedi seorang pejuang kemerdekaan yang sangat memilukan.

Julius Pour, pada harian Kompas, Rabu, 5 Juli 1995

MAKNA LAGU GUNDUL-GUNDUL PACUL

MAKNA LAGU  GUNDUL-GUNDUL PACUL
Tembang Jawa ini konon diciptakan pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga, ternyata mempunyai arti filosofis yang dalam.

GUNDUL   = kehormatan tanpa mahkota..
PACUL       = cangkul, yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat..
Jadi pacul adalah lambang dari kawula rendah, kebanyakan petani..
Gundul Pacul, artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pemimpin yang mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya..

Orang Jawa mengatakan pacul adalah "papat kang ucul."
Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 (empat) hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya :

1. Mata untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat/orang banyak..
2. Telinga untuk mendengar nasehat..
3. Hidung untuk mencium aroma kebaikan..
4. Mulut untuk berkata adil..

Jika 4 (empat) hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya..

Gembelengan artinya : besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya..

GUNDUL GUNDUL PACUL-CUL.
 
Jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) hal/ indera mata , telinga , hidung dan mulut itu, maka mengakibatkan :
a. GEMBELENGAN (Congkak/sombong)..
b. NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL.
(Menjunjung amanah rakyat/orang banyak) dengan.. GEMBELENGAN (sombong hati)..
c. WAKUL NGGLIMPANG.
(Amanah/kekuasaan jatuh tak bisa dipertahankan)..
d. SEGANE DADI SAK LATAR.
(Berantakan sia-sia, tak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)..
Ternyata lagu yang bernada lucu dan gembira ini bermakna dalam dan mulia.
✍� jadilah pimpinan yang bijak & amanah demi kepentingan orang banyak !

Indonesia ditangan Jokowi Singapura Terancam Bangkrut

Indonesia ditangan Jokowi Singapura Terancam Bangkrut


Ternyata Kita baru sadar & tahu bahwa negara kita Indonesia ini sebenarnya sangat kaya.

Barulah terbuka dengan jelas bahwa ada sekitar 4 ribu triliun rupiah uang orang Indonesia yang parkir hanya di Singapura saja.

Pantaslah Singapura negara kecil yang kaya raya, karena berhasil menarik banyak uang orang Indonesia kesana.

Uang yang ditaruh di Singapura itu bukan hanya uang yang disembunyikan supaya bebas pajak saja.

Tetapi juga uang-uang haram dari illegal logging, illegal fishing dan banyak illegal lainnya termasuk uang korupsi.

Pemerintah Singapura sejak dulu membuka negaranya untuk menerima uang haram dr Indonesia dan mengelolanya.

Mirip ikan kecil remora yang selalu menempel pada ikan hiu. Ada simbiosis mutualisme antara konglomerat dan pejabat hitam di Indonesia dengan negara kecil Singapura.

Dan sekarang Singapura terancam...

RUU pengampunan pajak atau tax amensty sedang digerakkan oleh Jokowi. RUU itu ketika di-sahkan DPR bagaikan buah simalakama bagi mereka yang punya uang di luar negeri.

"Lu mau masukin duit lu ke Indonesia dan kami kasih ampun, atau kami tangkap karena penipuan pajak.." Tegas dan tanpa ampun.

Ketegasan ini memang diperlukan, karena Indonesia sangat butuh modal untuk membangun infrastruktur berskala massif.

Kebutuhannya sekitar 500 triliun per tahun. Dan daripada ngutang mulu, mending korek-korek saja dari apa yang kita punya.

Jadi bisa Anda bayangkan ketika uang 4 ribu triliun rupiah itu ditarik dari Singapura. Yang jelas Singapura akan mengalami kekeringan likuiditas. Ekonomi mereka pun akan anjlok pada titik terendah.

Belum lagi ketika infrastruktur Indonesia sudah selesai, maka mimpi Singapura untuk menjadi negara tempat investasi terbaik di ASEAN pada 2020 hancur sudah.

Lha gimana, mereka sebenarnya ga punya sumber daya apa-apa kok. Bandingkan dengan Indonesia yang luasnya gak kira-kira. Jokowi seperti menghisap darah mereka habis-habisan sampai mereka butuh transfusi nantinya.

Singapura pun melawan...

Mereka aktif merayu orang Indonesia yang menyimpan uangnya disana supaya menjadi warga negara Singapura dengan segala kemudahan dan fasilitasnya.

Nah, ini adalah ujian hebat bagi orang-orang kaya itu, tetap di Indonesia atau pindah jadi WN Singapura saja. Bodoh banget kalau mereka disana, Indonesia itu masa depan.. Singapura itu sebentar lagi tinggal kenangan..

Yak hanya itu saja. Ada indikasi Singapura pun sedang berusaha melobi DPR supaya tidak men-sahkan RUU tax amnesty.

Mereka juga menyewa LSM yg terus berteriak bahwa UU tax amnesty itu akan membuat jalur korupsi baru. Apa saja mereka lakukan, karena memang situasi sedang lampu kuning di sana.

Jadi kita mulai paham bahwa pemerintahan Jokowi ini bukan saja mengancam para koruptor, tetapi juga mengancam negara yg selama ini meindungi koruptor...

Sudah berapa tahun kita diinjak-injak sama si kecil buntet yg kaya dengan mengorek-ngorek kelemahan sistem kita.

Mungkin sekarang para pejabat Singapura sedang menempelkan foto Jokowi di dinding dan melemparnya dengan anak-anak panah kecil sambil menggeram,

"Kenapa bukan Prabowo aja sehhh yang kepilih... Kita kan ga pucing pala ampe botak geneehh..."

Dan Jokowi santai duduk di teras depan istana sambil menyeruput kopi, "Kecil aja belagu lu... Kapok gw pites tes.." Senyum Jawanya mengembang sambil nembang. "Bengawan solo.... Riwayatmu kini...."

Fahri Hamzah Ingatkan DPR Agar Tolak Tax Amnesty

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengingatkan DPR untuk menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Tax Amnesty yang diajukan oleh pemerintah. Menurut Fahri, DPR lebih baik mendorong pemerintah untuk mereformasi sistem hukum dan sistem pajak daripada meloloskan Tax Amnesty yang akan banyak menimbulkan kekacauan.

“Reformasi hukum dan sistem pajak jauh lebih penting dikerjakan daripada meloloskan Tax Amnesty. Kalau sistem hukum kita baik, maka uang halal, uang bersih akan datang ke kita. Kalau Tax Amnesty justru mengundang uang-uang haram dari money laundering, pengelapan pajak dan lain-lain, itu yang akan masuk. Makanya kerjakan saja dulu reformasi sistem pajak dan hukum,” ujar Fahri dalam Forum Discusion Group di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (21/4/16).

Reformasi pajak, kata Fahri, bisa dilakukan agar kecurangan pajak bisa dihilangkan, piutang pajak bisa tertagih, dan agar intensifikasi pajak bisa dilakukan. Sekarang ini, banyak sekali piutang pajak yang tidak tertagih, kecurangan pembayaran pajak dengan berbagai modus operandi, dan masih banyak sekali objek pajak yang sama sekali belum membayar pajak.

Menurut Fahri, sistem pajak harus dibenahi, mulai dari NPWP, jumlah hakim pajak yang hanya 49 orang untuk menangani ribuan triliun rupiah pajak, sampai pengadilan pajak yang cuma ada di Jakarta, Yogyakata, dan Surabaya.

“Semua harus ditata ulang dan yang paling penting adalah database,” ujarnya.

Fahri melanjutkan, banyak perusahaan yang tidak memiliki NPWP. Perusahaan yang memiliki NPWP pun belum tentu membayar pajak. Perusahaan yang membayar pajak juga belum tentu benar membayarnya. “Belum lagi banyak jenis usaha baru yang belum dikenakan pajak,” ujarnya.

Fahri menyadari, negara saat ini sedang membutuhkan tambahan pemasukan untuk menutupi kekurangan pendapatan karena kurangnya ekpors komuditas dan harga komoditas yang sedang turun. Namun demikian, menurutnya caranya bukan dengan tax amnesty. Untuk itu, memerlukan kecerdasan dan ketekunan pemerintah dalam mengejar pajak lainnya.

Dia pun mengingatkan para anggota DPR untuk terbuka membahas masalah tax amnesty karena hal itu adalah persoalan serius yang membutuhkan ruang perdebatan. Fahri juga meminta Presiden Joko Widodo untuk membuka data orang-orang yang melarikan uangnya ke luar negeri.

“Ini semua harus dibuka, jangan lakukan lobi-lobi di bawah meja. DPR tidak boleh diam dan saya juga ingatkan Presiden Jokowi untuk tidak menjadi presiden pertama yang merusakkan Indonesia dengan menyetujui tax amnesty karena mengizinkan masuknya uang haram,” ucap Fahri.

Sumber:
Dikutip dari Tulisan Denny Siregar & republika.co.id

Fakta-fakta kematian RA Kartini



Mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini
Kartini adalah pahlawan Nasional SK Presdien RI (Ir. Soekarno) No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. SK tersebut menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional menunai banyak kontroversi. Banyak latar yang mempertanyakan bahwa nilai kepahlawanannya tidak lepas dari politik etis zaman Belanda. RA kartini merupakan wanita berdarah biru, cerdas, pemberani, dan kurang menyukai hal-hal yang bersifat seremonial. Dia menentang perihal yang bersifat feodalism kerajaan maupun kolonial. Dan sangat memperhatikan nasib bangsa bumipertiwi khususnya kaum wanita dibidang pendidikan. Karena ia berpikir, hanya melalui pendidikan rakyat Indonesia lepas dari perbudakan kolonial penjajahan dan keratonism.

Yakni sebuah pemikiran yang jarang dimiliki oleh putra bangsa —apalagi wanita— seperti Kartini. Sehingga nasehat Hugrogonje, orang seperti kartini harus didekati, karena pola pemikirannya sangat berbahaya bagi sistem kolonial Hindia Belanda. Maka dari itu JH Abendanon, Menteri Pendidikan penjajahan kala itu di zaman Kartini berupaya mendekati Kartini dari sudut pemikiran. Pemikiran-pemikiran Kartini yang sedemikian berani, kritis, sistemik terlihat dari berbagai surat-surat dan artikel yang sudah menyebar di majalah-majalah wanita Eropa harus didampingi oleh orang Belanda agar tidak keluar dari visi penjajahan kerajaan belanda di Hindia Belanda. Khususnya pemikiran tentang gugatan emansipasi di zaman yang sudah mendunia kala itu bahwa pemikiran tentang kewanitaan sangat mengagetkan wanita-wanita Eropa.

Penjajahan tidak hanya feodalisme dan kapitalis dunia, akan tetapi diskriminasi terhadap kaum wanita di seluruh dunia, bisa dikatakan bagi kaum wanita merupakan era penjajahan gender, bahkan untuk negara penjajah sendiri seperti Belanda dan Eropa lainnya, kaum wanita merasa terjajah oleh sistem negerinya sendiri. Dan Kartini ibarat sinar yang mampu menggugah pemikiran wanita-wanita Eropa untuk bangkit menjadi kaum yang mandiri yang tidak hanya takluk oleh kaum pria dan sistem yang melingkupi budaya kewanitaan. Sedemikian jauh dan cerdas, untuk sekian kalinya JH. Abendanon mengawal profil kehidupan dan pemikiran Kartini, lihat dalam uraian surat-surat Kartini di buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (door duisternis tot licht) tidak mampu mengawal letupan-letupan gugatan Kartini terhadap sistem feodal kratonism dan kolonialism. Dalam rekayasa ini sangat terlihat intrik-intrik hitam pada detik-detik Kartini, ketika ada visi untuk menjatuhkan intlektual Kartini.

Artinya, kartini di zaman itu bukan hanya di era indonesia dan segala kerajaannya, akan tetapi surat-surat dan artikel via pos. Kalau tidak berlebihan dikatakan, “ di zaman itu 1898 – 1902 Kartini menjadi tokoh dunia. Ia menjadi sentral tokoh-tokoh wanita Eropa di dunia.” Dan bagi kolonial Belanda di Indonesia menghabisi peran intlektual Kartini akan menjadi masalah internsional, karena masalah area kolonial atau penjajahan sangat bersaing ketat dengan Inggris. Dari sini ada upaya “gerakan bawah tanah” untuk menghabisi RA Kartini. Gerakan itu bisa dirasakan dan mulai terlihat jelas ketika RA kartini hendak sekolah ke Luar Negeri, kemudian cita-citanya sekolah di Bandung, semua tumbang ditengah jalan akibat campur tangan JH Abendanon terhadap bapak Kartini. Demikian juga masalah pernikahan, sangat kental sekali upaya JH Abendanon terhadap bapak Kartini dan sistem keraton Jepara. Akhirnya Kartinipun menikah di usia 25 tahun. Kalau sudah menilah bagi adat Jawa yang sudah dipelajarai penjajah Belanda, tentu profil wanita Jawa tidak bisa berbuat banyak lagi.

Ketika memasuki area pernikahan dan hidup di Rembang bersama suami tercinta, rupanya sang suami sangat mendukung visi, misi, dan tujuan Kartini tentang Pendidikan, menulis buku bahkan Kartini sudah membuat plot buku yang bertema Babat tanah Jawa, atas dukungan suami tercinta. Buku itu belum selesai ditulis karena meninggal dunia. Juga ada seorang ulama Kyai Sholeh Darat menulis kitab tafsir untuk Kartini agar bagaimana Kartini memahami Islam, Kyai itupun wafat dengan misterius, sebab umat islam sengaja dijauhkan dari keilmuan agamanya sendiri. Dengan kata lain bahwa Kartini, walaupun sudah berstatus istri masih melakukan aktifitas-aktifitas intlektualnya atas bantuan suami dan orang terdekat dari kalangan pribumi. Kutipan di salah satu buku saya, maaf ! “Betapa bahagianya Kartini melihat suaminya mendorong agar tetap bersemangat menulis. Suaminya menyampaikan ide agar menulis buku Babad Tanah Jawa.

Diharapkan dari tulisan Kartini kelak masyarakat Jawa bisa melihat dengan jelas sejarah perkembangan tanah Jawa. Dikatakan dalam satu suratnya tanggal 16 Desember. 
"Suami sangat inginnya melihat saya menulis kitab tentang cerita lama-lama dan babad tanah Jawa. Dia akan mengumpulkannya bagi saya; kami akan bekerja bersama-sama mengarang kitab itu. Senangnya hati mengenangkan yang demikian itu ! Masih banyak lagi hal yang hendak diperbuatnya bersama-sama dengan saya; di atas meja tulis saya telah ada beberapa karangan bekas tangannya. (Armijn Pane 1968, 238)"
 Hidup di Rembang sebagai permaisuri sekaligus wanita karir (sebutlah seperti di zaman modern ini) Kartini sudah mencapainya dengan baik sejak era 1900-an. Aspek sejarah manapun terbukti bahwa Kartini sudah membuka pintu yang luas untuk diri dan bangsanya.
Menjadi kolomnis untuk majalah Eropa dan menjadi penulis buku bukan hal yang mudah di zaman penjajah. Tingkat kecerdasan masyarakat Jawa secara umum masih banyak yang belum bisa baca tulis. Akan tetapi Kartini gadis keraton dengan gaya pendidikan yang ketat (di keraton) tanpa mengalami kesulitan menulis buku atau membaca buku-buku. Ia memperoleh dukungan luar biasa dari suaminya.” 

JH Abendanon dan orang-orang Belanda berpikir keras, bagaimana menghentikan gerakan intlektual Kartini terhadap bangsa melalui pemikiran dan wawasan kebangsaan Indonesia. Muncullah “gerakan bawah tanah” melalui dokter persalinan yang mengurusi persalinan RA. Kartini ketika melahirkan Susalit, dan fenomena itu bisa ditafsir ke seribu makna tentang kematian Kartini. Proses persalinan susalit tidak ada masalah. Badan sehat, tidak ada keluhan, namun pada minggu selanjutnya ketika DR itu datang, tiba-tiba perutnya sakit dan meninggal dunia.
Ada kutipan yang menarik. Sitiosemandari memberikan gambaran kecurigaan yang wajar. Tanggal; 13 September 1904 bayinya lahir, laki-laki, kemudian diberi nama Raden Mas Soesalit. Tanggal 17 September, dr. Van Ravesteyn datang lagi untuk memeriksa dan dia tidak mengkhawatirkan keadaan Kartini. Bahkan bersama-sama mereka minum anggur untuk keselamatan ibu dan bayi. Tidak lama setelah Ravesteyn meninggalkan Kabupaten, Kartini tiba-tiba mengeluh sakit dalam perutnya. Ravesteyn, yang sedang berkunjung ke rumah lain, cepat-cepat datang kembali. Perubahan kesehatan Kartini terjadi begitu mendadak, dengan rasa sakit yang sangat di bagian perut. Setengah jam kemudian, dokter tidak bisa menolong nyawa pemikir wanita Indonesia yang pertama ini. 

Pembunuhan ? 
Racun ? 
Guna-guna ? 

Tentang hal ini, Soetijoso Tjondronegoro (Sutiyoso Condronegoro) berpendapat: “Bahwa ibu kartini sesudah melahirkan putranya, wafatnya banyak didesas-desuskan, itu mungkin karena intrik Kabupaten. Tetapi desas-desus itu tidak dapat dibuktikan. Dan kami dari pihak keluarga juga tidak mencari-cari ke arah itu, melainkan menerima keadaan sebagaimana faktanya dan sesudah dikehendaki oleh Yang Mahakuasa. (Imron Rosyadi, 2010) 

Ada pernyataan dari teman belanda, Jika hewan saya sakitpun, saya tidak percaya terhadap kompetensi dr. Van Ravesteyn. Ada intrik yang mendalam, yakni permainan dalam sekam agar tidak terlihat upaya pembunuhan terhadap kartini. Orang berpura-pura berbelasungkawa, sesungguhnya dialah yang membawa pedang tikaman. Orang berteriak maling, sesungguhnya dialah malingnya. 

Akan tetapi keluarga kerajaan mengambil jalan bijak, dan menurut bahasa elit yang terkenal zaman itu, “Laat de doden met rust” (biarkan yang meninggal jangan diganggu – [Efatino Febriana, 2010]). 

Dan semuanya dianggap bagian dari perjuangan Kartini yang tertunda. Tentang “intrik-intrik” sudah ada di zaman dulu hingga zaman sekarang.
Manusia yang dianggap penting dan berkedudukan tinggi jika memperoleh target pembunuhan atau pemandulan peran karena pertimbangan tertentu, pasti dilakukan dengan hati-hati, karena dampak dari pembunuhan dan pemandulan itu akan diketahui publik dan berdampak pada eksistensi sosial yang tinggi juga, yang taruhannya akan terkena pada pembuat intrik tadi. Jadi selalu ada alasan lain sebagai “kambing hitam politik” sebagai korban untuk mengamankan zona yang lebih luas dan panjang. Termasuk RA. Kartini versus Belanda, ada zona yang lebih luas dan panjang jika Kartini dibiarkan hidup di era zaman belanda. Jadi R.A. Kartini bukan pahlawan yang sengaja di-usung bangsa Belanda melalui politik etis, dan mengalahkan Cut Nyak Dien, Sartika, dll yang tidak di”hari raya”kan sementara Kartini kenapa dijadikan momen 21 April sebagai Hari Kartini, dan tidak ada hari besar Cut Nyak Dien atau lainnya. Hari Besar itupun dihapus dengan alasan Kartini adalah pahlawan bawaan Belanda.

Padahal Kartini adalah korban politik etis bangsa belanda secara terselubung, hanya kita yang buta, kenapa tidak mengetahui ada mutiara yang berserakan di tanah air sendiri dengan bicara yang tegas. Kita masih ada budaya menyalahkan kelompok lain bidang sosial, politik, atau keagamaan, yakni melalui pemikiran perbandingan intlektual pembenaran diri sendiri, dan menganggap lainnya salah yang tidak koheren dengan kita. Dan Kartini salah satu korban pahlawan di zaman dulu dan korban malpraktek pemikiran di zaman kekinian.

Bermasalah dengan penerbangan Nekad bugil di bandara

Nekad-bugil-di-bandara


Charlotte - Seorang pria bertelanjang selama 40 menit di bandara internasional Douglas di Charlotte, North Carolina sebelum digiring oleh polisi.
Dalam insiden yang terjadi pada akhir Mei 2015, sejumlah saksi di bandara mengatakan bahwa pria itu melakukan aksi tanpa busananya sebagai bentuk protes karena penerbangannya dengan maskapai US Airways ke Jamaika sudah penuh.

Dikutip dari New York Daily News, seorang calon penumpang lain bernama Sherry Ketchie mengambil sejumlah foto ketika pria itu melucuti pakaiannya di ruang tunggu bandara, tak peduli ada sejumlah anak kecil di sana.

Kepada stasiun WBTV, wanita itu mengatakan, “Aku heran ketika saya melihat orang berlari. Saya berusaha untuk mencari tahu, dan seorang pegawai penerbangan mengatakan ada penumpang yang marah karena ada masalah dengan penerbangannya ke Jamaika.”
Ia melanjutkan, “Ketika itu ia masih mengenakan pakaian, tapi kemudian ia mulai berdiri dengan tangan bersilang di dada sambil berteriak kepada petugas wanita. Setelah itu ia berdiri sejenak dan mulai menanggalkan pakaiannya. Belum pernah saya melihat hal seperti itu seumur hidup saya.”
Wanita yang mengaku seorang produser televisi kebetulan berada di lokasi untuk urusan pekerjaan. Ia mengatakan reaksi calon penumpang lainnya beragam. “Saya tertawa terlalu keras sampai menangis. Tapi kemudian saya melihat orangtua membawa pergi anak-anak mereka, hal itu membuat saya jadi prihatin.”

Pria berumur itu terus bersilang pendapat mengenai pembatalan penerbangannya hingga akhirnya petugas kepolisian Charlotte-Mecklenburg tiba di tempat.
Kepada polisi ia mengatakan bahwa ia membuka bajunya karena kepanasan. (Alx/Rcy)

Sumber :
Alexander Lumbantobing on Liputan6.com

LEGENDA JAPAR.

LEGENDA JAPAR.
Orang orang di kotaku memanggilnya dengan nama Japar, lelaki keturunan Timur Tengah, bertampang ganteng apa adanya, jenggotnya lebih panjang dari bossnya teroris, rambutnya gimbal dan pakaian yang dikenakan sangat sederhana, berjalan dengan gontai penuh percaya diri.
 
 Dengan penampilan bersahaja tersebut menjadikan Japar sebagai legenda, dari generasi ke generasi menjadi saksi, dia adalah orang yg tak pernah bikin masalah, apalagi untuk dicurigai gara gara punya hobby memelihara jenggot. Tiap pagi, siang dan sore japar menyusuri jalan jalan disepanjang kota Pemalang untuk memantau kehidupan orang waras, orang orang yang menganggap dirinya terhormat tapi juga menyembunyikan keserakahan dan kelicikan.
 
Demikian tingginya harga diri Japar hingga dia lebih suka mengais ngais sisa makanan di bak sampah daripada mengemis di pasar apalagi misalnya  "meminta saham". Kalau ada orang masih suka meminta minta itu tandanya orang waras.
 
Anak anak yang dulu ketika berangkat sekolah menyaksikan Japar sidak disepanjang jalan kota kini ada yang sudah bergelar doktor bahkan profesor, tetapi Japar tetap Japar ilmunya sangat mumpuni tak tertandingi oleh siapapun. 
 
Kalau kamu masih bisa iri dan dengki maka Japar adalah contoh orang yang bersabar dan berjiwa besar, kalau kamu masih suka menimbun bistik di kulkas, emas di deposit dan lembaran saham maka Japar terlalu kaya untuk menyimpan semua yang dia miliki karena baginya kehidupan dan keramahan adalah kekayaan yang tak ternilai, tiap hari rejeki selalu datang menghampiri.
 
Senyam senyum, cengar cengir japar adalah sahabat kehidupan, tak perlu mencurigai Japar yang berjenggot lebat karena dia tidak bawa bom, tidak memaksa pikiran  anda untuk mengikuti keyakinannya, tidak menonjok anda dengan cap kafir. Dia adalah Japar orang yang bangga dengan kegilaannya tapi lebih waras dari orang  orang waras yang menebarkan kebencian dan kerusakan di bumi. (Suntoro Amkarakas).

Ketika RA Kartini belajar mengaji


raden-ajeng-kartini-belajar-mengaji

Suatu ketika RA Kartini mengikuti pengajian yang diberikan oleh Kyai Sholeh Darat di pendopo rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang juga merupakan pamannya.
Pada pengajian tersebut, Kartini yang mempunyai pembawaan kritis menyampaikan kegundahannya kepada Kyai Sholeh Darat bahwa selama ini dia dan masyarakat jawa pada umumnya belajar mengaji hanya membaca dan menghafalkan al Quran tanpa mengetahui maknanya.

Kegundahan Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar: menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa.
Kiai Sholeh Darat pun memutuskan untuk melanggar aturan Belanda saat itu yang tak mengijinkan penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa.
Supaya tidak mencolok, kyai Sholeh Darat menyamarkan terjemahan al Quran dalam bahasa Jawa tersebut dengan menuliskannya menggunakan alfabet arab. Bahasa jawa yang ditulis dengan alfabet arab ini dinamakan arab pegon yang sangat membantu orang jawa pada waktu itu dalam memahami al Quran.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama "Kitab Faidhur-Rohman" yang merupakan tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai hadiah perkawinan.              
 
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan salah satu tafsir ayat yang menggugah hati RA Kartini dan senantiasa diulang-ulangnya dalam berbagai suratnya kepada sahabat penanya di Belanda, yaitu surat Al Baqarah ayat 257.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).”

Kalimat: مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ (minazhzhulumaati ilannuur) dalam ayat tersebut dalam bahasa Belanda adalah : "Door Duisternis Toot Licht"  berarti dari kegelapan menuju cahaya (bukan habis gelap terbitlah terang).

Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyurat RA Kartini.


*)Kyai Shaleh Darat yang juga guru dari Kyai Hasyim Ashari dan Kyai Ahmad Dahlan ini wafat di Semarang pada18 Desember 1903 dan dimakamkan di pemakaman umum “Bergota” Semarang. dalam usia 83 tahun.

Antara IRIAN atau PAPUA



Persis tanggal 31 Desember 1999, saat berkunjung ke Irian Barat, Presiden Abdurrahman Wahid serta merta menyetujui tuntutan kaum separatis Papua untuk mengubah nama “IRIAN” menjadi “Papua”. Alasan orang-orang yang menuntut itu, karena katanya “IRIAN” berkonotasi sangat Indonesia, karena itu adalah singkatan dari kalimat “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”.
Ini sesuatu yang aneh, yang dilakukan oleh orang-orang Irian “murtad”, dari yang semula mengaku orang Indonesia tiba-tiba menuntut sesuatu yang bersifat separatis, dan lebih aneh lagi, hal itu dikabulkan oleh Gus Dur. Tatanan negara pun menjadi terdistorsi, karena persetujuan itu sama sekali belum dirundingkan dalam sidang Kabinet, atau bahkan belum dikonsultasikan dengan DPR RI. Sebab, kebijaksanaan Gus Dur itu tidak sesuai dengan penjelasan Bab VII UUD 1945 yang menyatakan: Kekuasaan Kepala Negara “tidak tak terbatas”.
Tidak berhenti di situ, Gus Dur juga menyetujui pemberian bantuan satu miliar rupiah untuk menyelenggarakan Kongres Rakyat Papua awal Juni 2000, yang nota bene kongres itu menuntut pemisahan Irian Barat dari NKRI. Dengan mudah, kongres menyatakan, Presiden Abdurrahman Wahid bukan saja menyetujui kongres, tetapi juga menyetujui tuntutan memisahkan diri.
Semula, Gus Dur bermaksud, kongres tersebut mengikut-sertakan juga tokoh-tokoh Irian Barat yang tidak menyetujui pemisahan diri dari wilayah NKRI. Ternyata, hal itu tidak diakomodir oleh penerima bantuan. Sehingga yang berkongres hanya kelompok separatis.
Sikap Gus Dur kemudian coba dikoreksi sendiri dalam Sidang Tahunan MPR 2000. Di situ Gus Dur berstatemen, jika gerakan separatis itu diteruskan, maka akan ditumpas, karena Irian Barat adalah wilayah NKRI yang bukan saja akar sejarahnya menyatakan demikian, tapi masih ditambah dengan berbagai pernyataan golongan-golongan di Irian Barat dalam berbagai kesempatan yang menyatakan pengakuan bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, adalah juga proklamasi kemerdekaan Irian Barat dalam wilayah NKRI. Bahkan wilayah itu disahkan PBB sebagai wilayah kesatuan NKRI, yang berarti disahkan juga oleh seluruh dunia.
Nah, kembali ke kepanjangan “IRIAN” yang oleh kelompok separatis diplesetkan menjadi “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”, yang tak lain hanya gosip. “IRIAN” adalah nama yang diusulkan oleh seorang pejuang Papua, Frans Kaisiepo, yang berarti “Sinar yang menghalau kabut”, diambil dari bahasa salah satu suku di Irian.
Di Irian, terdapat 244 suku dengan 93 bahasa lokal. Kata “PAPUA” yang menggantikan “IRIAN” malah justru mempunyai konotasi yang buruk, karena berarti “Daerah hitam tempat perbudakan”. Ironisnya, versi kaum separatis, nama itu lebih disukai karena dianggap memberikan semangat kepada perjuangan kemerdekaan mereka.
Pelurusan sejarah tersebut dilakukan oleh Dr. Subandrio, Wakil Perdana Menteri I dalam Kabinet Presiden/ Perdana Menteri Sukarno, dalam bukunya “Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat”, terbitan Yayasan Kepada Bangsaku tahun 2001. Buku ini diberi kata pengantar oleh H. Roeslan Abdulgani. Di dalamnya memuat secara rinci sejarah perjuangan merebut Irian Jaya dari tangan Belanda.

Dokter Tanpa Papan Nama




Sebuah bangunan tua di kawasan Jln. Puri Medan, Kelurahan Komat, Kecamatan Medan Area, Medan Sumatera Utara, kerap didatangi orang-orang yang mengendarai becak, sepeda motor, hingga mobil. Mereka adalah pasien seorang dokter yang akrab disapa Buya. Nama lengkap sang dokter dengan deretan gelarnya adalah Prof. Dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.
Di kediamannya itu, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama, kepada pasiennya dia tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau. Cukup fenomenal, kontras dengan umumnya dokter, apalagi di kota-kota besar.
Mengisi amplop sekehendak hati
Biasanya praktik buka pukul 17.00 WIB. Ada pasien yang datang dan mendaftar sejak siang kemudian pergi, banyak pula yang datang langsung mendaftar dan menunggu giliran. Ruang tunggu yang juga bagian dari garasi itu kadang dipenuhi pasien, sesuai giliran mereka masuk ke ruang praktik berukuran minimalis.
Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris putih biru-merah. Pasien yang sudah sering datang tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif "ikhlas hati" itu. Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja dr. Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.
Kadang dr. Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.
Andi (30), seorang kontraktor yang tinggal di Jln. Eka Rasmi, Kelurahan Gedung Johor Medan, yang datang dengan mobil APV putih, mengatakan, alasan utama membawa tiga anaknya ke dr. Aznan bukan hanya karena sang dokter tidak mematok tarif. Tapi ia betul-betul percaya pada kualitas dokter itu. Hari itu ketiga anaknya menderita batuk pilek.
"Tiga anak saya ini dulu punya penyakit kelenjar di leherny Dokter lain yang pernah saya datangi memvonis harus diambil tindakan medis. Tapi alhamdulillah, sama Buya tidak. Waktu itu pengobatannya selama enam bulan, dan radang kelenjar pada tiga anak saya sembuh," kata Andi.
Ia menuturkan, metode pengobatan yang dilakukan dr. Aznan sangat teratur dan bagus karena punya keahlian meracik obat. "kalau dokter lain resep obatnya mahal. Di sini obat yang diresepkan Biaya relatif terjangkau kita bisa dapat di apotek mana saja. Komposisi obatnya saya rasa sangat tepat, karena beliau sendiri ahli farmakologi,"
Sebagai pasien yang sudah sering berobat kepada dr. Aznan, Andi cukup tahu diri mengisi amplop. "Saya sewajarnyalah, apalagi kalau anak kita sudah sehat, maka kalau ada rezeki kita tambah, kalau tak ada ya ala kadarnya."
Ia menilai dokter Aznan juga rajin bersedekah. "karena sudah lama kenal, pernah juga membuka amplop dari pasien di depan saya. Saya lihat bahkan ada yang memberi Rp. 5.000. Pernah uang dari amplop pasien dibelikan durian untuk dimakan sama-sama, "ujarnya"
Membandingkan dr. Aznan dengan dokter lain, Andi berkomentar, "Waduh, kalau di luar sana, untuk dokter anak saja, sekali konsultasi bisa Rp. 200.000. Itu lain obat yang terkadang kan ada dokter yang komersil, diresepkan kepada kita brand tertentu yang susah kita cari, mau tidak mau kita beli dari apoteknya.
Pendapat senada diungkapkan Restu Manik, (30) warga Jln. Siriaon, Mandala By Pass, Medan. Restu, karyawan di PT Media Elektronik, mengaku pada 2005 divonis dokter THT (telinga hidung tenggorokan) mengidap polip pada hidungnya dan harus menjalani operasi kecil.
Dari temannya ia tahu praktik dokter Aznan, kemudian dia datangi. "Alhamdulillah, setelah minum obat resep dari Buya, polipku sembuh dalam empat bulan."
Dari pengalamannya berobat ke dr. Aznan, Restu menceritakan pasien datang dari pelbagai tempat. Dari Aceh, Padang Sidimpuan, Rantau Prapat, dsb.
"ada pasien dimrahi. Dia nanya berapa biaya berobatnya, terus kena sental (dimarahi) sama Buya, "udah gak usa bayar aja, kata Buya, " cerita Restu.
Menurut pengakuan Restu, sekali berobat ia memasukkan Rp. 25 ribu, kadang Rp. 30 ribu dalam amplop. "beginilah dokter yang kita inginkan, arif, bijaksana dan tidak komersil."
Belum punya rumah
Apa motivasi sang profeser doktor tidak mematok biaya konsultasi, mengingat dari pengakuannya, dia tidak punya rumah sendiri?
Memang ada satu rumah BTN yang dibelinya secara kredit sejak 1981 di kawasan Johor, tapi tidak sempat ia nikmati. "Oh, aku sampai sekarang tak punya rumah, biar kau tahu. Ini rumah mertuaku, yang ada di kampus USU itu kan rumahnya USU. Adapun rumah BTN yang dulu kucicil dari RISPA, tak sempat kunikmati karena disewakan," ujar Aznan.
Aznan yang tak terlalu bernafsu memikirkan harta duniawi. Prinsip hidupnya sederhana, "Aku yang penting tak ada utang, itu saja prinsipku."
Prinsip itu telah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. Hingga dewasa, prinsip itu terus dia pegang menjadi keyakinan. "Allah sudah mengatakan bahwa dia itu Arrahman Arrahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang) dan Allah Khairurrazikin (pemberi rezeki yang paling canggih, palking baik, tak ada duaNya). Dari kecil sudah disampaikan dan hingga sekarang masuk di otakku, masuk di keyakinanku, bahwa langkah, rezeki, pertemuan, maut, hanya Allah yang tahu. Aku tak tahu Allah itu telah mempersiapkan berapa banyak rezeki samaku dan seberapa untuk kau. Dan aku tidak akan mati, kau juga tidak akan mati sebelum rezeki yang diberi Allah itu kita habiskan," kata ayah tiga anak yang makin yakin dengan jalan pelayanan yang dia tempuh sepulang meraih gelar Ph.D. di Australia pada 1987.
Dituding ekstrimis
Sebelum berangkat ke Australia sekitar 1983, Aznan menghadapi tantangan yang cukup besar. Ia dicekal pemerintah, tidak boleh ke luar negeri karena dituding sebagai ekstrimis.
"Dari tahun 1980 sudah ada panggilan agar aku berangkat ke Australia untuk mengambil Ph.D. Tapi ternyata di negeriku yang amat sangat tercinta ini, aku disebut ekstrimis. Aku kena cekal, dikatakan Islam ekstrimis, sama waktu itu dengan orang-orang yang tidak boleh berpergian ke luar negeri," kisahnya.
Aznan sempat patah arang untuk belajar ke Australia. Namun, setelah ia meminta nasihat kepada ustaz, optimismenya muncul lagi. "kata ustaz, "tak beriman kau Aznan, andaikata rezeki itu memang disiapkan untuk kau ke sana (Australia). Itu artinya kau akan sampai, walaupun kau kesana naik kereta api," katanya mengenang.
"Berarti, kalau memang ada rezekiku di Australia, artinya aku akan tetap sampai kesana. Kalau ada sepiring nasiku di sana , aku harus sampai kesana untuk menghabiskan sepiring nasi tadi,": tegasnya.
Hikmah yang dipetik dari pengalaman itu, lanjut Aznan, dalam kehidupan ini manusia tak usah selalu heboh. Sebab pada dasarnya rezeki masing-masing orang sudah ditentukan Yang Maha Esa. "Tak perlu heboh kali, buka praktik di sana-sini. Sudah, kerja ajalah yang baik. Apa kerja kau, wartawan, berprofesilah kau sebagai wartawan. Aku dokter, berprofesilah aku sebagai dokter. Jangan nanti penampilan ustaz, tapi tujuannya ngambil duit, penampilan wartawan tujuannya ngambil duit, penampilan dokter tujuannya ngambil duit, guru ngambil duit, polisi ngambil duit, hakim ngambil duit, pengacara ngambil duit. Itu salah!"
Dokter bagi aznan, adalah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif jasa pembayaran. Sama halnya seperti dua profesi lainnya, yakni pengacara dan guru. "Yang datang ke pengacara itu kan orang meminta nasihat, datang ke guru karena orang mau belajar, datang ke dokter karena orang mau minta pengobatan. Jangan dibilang, eh sudah kutolong kau, mana duitnya. Itu tidak boleh. Terkecuali karena ilmu kita dia pintar lalu dia kaya, terus dia memberikan sesuatu tidak kita minta, boleh.
Jadi, tiga profesi ini mestinya tak boleh membuat tarif," katanya.
Aznan mengaku pasti, prinsip dia diragukan orang. Bagaimana ia membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga ketiga anaknya meraih sarjana?
"kan bingung juga kau, kok bisa hidup dokter, punya isteri, anak sarjana semua, dua orang jadi dokter dan satu sarjana hukum. Berdagang rupanya dokter? Kau tanya semua orang aku tak ada berdagang. Aku dosen, makin tak bisa aku minta duit sama muridku. Lalu dari mana? Oh itu semua buah kasih. Bagaimana bentuknya, ya macam-macam, seperti orang mengucapkan terima kasih," katanya.
Praktik hingga dinihari
Praktik dokter Aznan aelalu dipadati pasien yang jumlahnya mencapai ratusan. Akibatnya ia sering harus membuka praktik hingga dini hari, terkadang sampai pukul 01.30. Tentu sang profesor dibantu beberapa mahasiswanya yang sedang coass (magang dokter).
Setiap pasien yang akan masuk ruang praktik dipanggil oleh coass, terkadang isteri Aznan, Yanti, juga turut memanggil. Di dalam ruang praktik yang leluasa dilihat, rata-rata pasien diperiksa sekitar 5-15 menit. "minimal sehari 30 pasien. Nggak ada saya pun 30 paling sedikit. Kalau saya ke luar kota, bila ada kejadian yang sulit, anak saya yang dokter bisa menghubungi saya. Pasien juga bisa bertanya langsung melalui telepon," kata Aznan.
Selain datang dari pelbagai daerah, pasien dr. Aznan juga beraneka jenis kelamin, tingkat usia, suku bangsa, dan agama. Bahkan seorang biarawati Belanda pernah menjadi pasiennya. Soal bayarannya, Aznan mengatakan tidak penting. Dia bilang, "Kalau dia mau datang jauh-jauh jumpai aku, berarti kan dia menghormati aku. Bisa rupanya dibayar penghormatan itu?"
Kembali ke soal bayaran seikhlasnya tadi, dengan ekspresi datar Aznan mengatakan, "Ada Rp. 5.000, lima ratus rupiah pun ada, yang kosong juga ada."
Apakah tidak merasa sakit hati dengan amplop kosong itu? "Sama siapa aku harus sakit hati? Nggak mungkin. Bisa rupanya kutandai amplop ini dari si anu, ini dari si anu dari begitu banyaknya amplop tadi?" ia tersenyum.
Namun Aznan mewanti-wanti tindakannya tidak perlu dicontoh oleh dokter lain. "Kalau aku boleh kasih nasihat sama kawan-kawan dokter, jangan tiru aku. Kalau pun mau kan sudah kujelaskan tadi, bahwa harus yakin dulu dengan ke-Islaman. Bahwa Islam itu rahmatan lil `aalamin.
Penulis : Feriansyah Nasution

Tulisan Kader PKS tentang pemecatan Fahri Hamzah

Bima dan Ujian Kejama’ahan Kita
Oleh: @salimafillah

Izinkan saya menyebut seorang perempuan: Niken Lara Yuwati. Barangkali tidak banyak yang mengenal nama di atas. Tapi sosok wanita agung ini ada di balik dua perang besar; yang satu nyaris membangkrutkan VOC pada 1746-1755; yang satu lagi nyaris membangkrutkan pemerintahan jajahan Hindia-Belanda pada 1825-1830.
Niken Lara Yuwati, cucu Sultan Bima, Abdul Kahir I itu, lebih masyhur dikenal sebagai Ratu Ageng Tegalreja, permaisuri Sultan Hamengkubuwana I (1755-1792). Beliau terampil berkuda, ahli menggunakan patrem (keris kecil), jitu dalam memanah, dan tahan mengarungi perjalanan panjang. Pada Perang Giyanti, dia mendampingi gerilya suaminya menempuh medan yang amat berat di bentangan Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Dalam masa prihatin itu, di tengah hutan lereng Gunung Sindoro beliau melahirkan sang putra yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana II. Beliau pula memimpin bregada prajurit putri, satu-satunya kesatuan yang peragaan perangnya membuat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sangat terkesan dalam kunjungannya ke Yogyakarta semasa pemerintahan putranya.
Setelah merasa jalan perjuangan putranya tak segaris dengan almarhum suami tercinta, wanita baja ini memilih mengundurkan diri ke Tegalreja, membuka persawahan makmur dan menampung para ‘ulama serta santri. Diasuh pula olehnya sang buyut yang lahir pada 1785, Bendara Raden Mas Musthahar yang kelak dikenal sebagai Dipanegara. Di bawah bimbingan nenek yang shalihah ini, Dipanegara tumbuh sebagai pangeran santri yang kelak mengobarkan jihad akbar untuk tegaknya agama di Jawa.
Yogyakarta, juga negeri ini, berhutang besar pada seorang srikandi dari Kesultanan Bima, di pulau Sumbawa. 

fahri-hamzah-di-pecat-dari-pks


Sejarah berulang, dan gerakan mahasiswa serta dakwah di Era Reformasi juga berhutang besar pada ksatria dari Bima yang punya sifat begitu mirip dengan tokoh Bima dalam pewayangan; Abangnda Fahri Hamzah. Kukuh, keras, bicaranya “ngoko”, tanpa basa-basi dan seceplosnya.
Saya hanyalah seorang pelajar SMP yang lugu ketika dengan sangat heroik Bang FH dan Ayahanda Dr. M. Amien Rais berboncengan bertaruh nyawa dalam hari-hari genting reformasi. Dan kisah-kisah di hari itu begitu mengilhami jalan hidup kami para muda, hingga sayapun berada di barisan dakwah di mana Bang FH berada. Bedanya tentu, beliau di penjuru depan sementara saya ada di shaff amat belakang.
Hidup berjama’ah dalam dakwah adalah pilihan untuk mengoptimalkan ‘amal; sebagaimana Ayah saya yang Guru Muhammadiyyah dan Ibu saya yang lekat dengan tradisi keagamaan Nahdlatul ‘Ulama. Dan saya, dengan tetap bernafas dalam atmosfir harum yang dihembuskan oleh Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari maupun KH Ahmad Dahlan, mendetakkan pula jantung ini dalam balada Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdullah.
Sepanjang perjalanan dalam perhimpunan dakwah ini, Bang FH adalah model bagi kepanglimaan yang gagah, yang bernyali, yang tak gentar resiko, yang tak takut celaan dari orang-orang yang mencela. Tapi setiap pahlawan punya kisahnya sendiri. Hari-hari ini, Bang FH kebanggaan serta kecintaan kami para muda di barisan ini; sekaligus juga Allah jadikan ujian bagi kejama’ahan kami.
Tapi bukankah seseorang dan suatu kaum memang diuji Allah dengan hal yang amat dijunjung tinggi? Ibrahim, lelaki yang penuh cinta. Maka seluruh hidupnya adalah ujian cinta. Dan dia lulus sebagai ‘Kekasih Ar Rahman’. Maryam, sang perawan suci pengkhidmah Bait Suci, juga diuji dengan soal yang paling mengguncang kehormatan diri. Dan Muhammad ﷺ, lelaki yang menjunjung kejujuran dan kepercayaan, setelah 40 tahun hidup sebagai Al Amin, tiba-tiba wahyu turun lalu dia didustakan. Tak ada manusia yang sempurna.
Saya melihat kasih nan lembut itu di wajah dzurriyah Rasulillah ﷺ yang mulia, Al Habib Dr. Salim Segaf Al Jufri, MA. Jikapun Bang FH yang akibat ketidaktaatannya pada AD/ART dan keputusan dewan pimpinan sebagaimana termaktub dalam fakta kronologisnya harus berhenti, maka beliau sangat berharap kepada masyarakat dapat dikatakan seperti ucapan ‘Umar tentang pemecatan Khalid sebagai Panglima Utama, “Bukan kemampuan Abu Sulaiman yang aku ragukan, tapi aku mengkhawatirkan hati manusia yang terlalu memujanya.” Agar semua ‘aib terjaga. Agar tak perlu ada luka.
Tapi ada yang berbisik, seakan-akan Ketua Majelis Syura bertindak secara pribadi, memaksa mundur karena kepentingan pribadi. Saya dan hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang tak dapat dibenarkan.
Saya melihat cinta nan adil itu di wajah Ketua Majelis Tahkim, Dr. Hidayat Nur Wahid. Beliau bersama segenap jajaran lain telah memberi berulangkali kesempatan, pembahasan, dan h saksi secara tertutup, agar kepada ummat dapat dikatakan seperti ucapan ‘Umar tentang pemecatan Sa’d ibn Abi Waqqash sebagai Gubernur Kufah, “Demi Allah ini bukanlah karena dosa yang dilakukannya, bukan pula karena ada sifat khianat pada dirinya.” Agar tak perlu ada kegaduhan yang melemahkan.
Tapi ada yang berbisik, seakan-akan lembaga ini melawan hukum dan berbuat aniaya, tak berwenang dan hanya akal-akalan seseorang saja. Saya dan hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang menyesatkan.
Saya melihat hikmah nan sejuk itu ada di wajah Kang Sohibul Iman, Ph.D. Beliau bersama segenap unsur yang dilibatkan telah banyak menyabarkan diri, memberi permakluman, dan ‘udzur meski terjadi beberapa kali, -katakanlah-, ketaktepatan janji. Agar dapat dikatakan sebagaimana ucapan ‘Umar pada Yahudi yang mengadukan Gubernur Mesir ‘Amr ibn Al ‘Ash, “Cukup kauberikan padanya tulang yang kugaris dengan pedang ini, dia pasti akan mengerti.”
Tapi ada yang berbisik bahwa seakan memang sejak awal Bang FH hanya ditumbalkan untuk merapatkan partai dakwah ke rezim penguasa. Saya maupun hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang jahat.
Tidak boleh ada yang mengingkari jasa-jasa besar seorang Bang FH bagi dakwah dan negeri ini. Tapi bagi kita kader dakwah, kalau pembelaan pada beliau membuat kita merendahkan musyawarah kelembagaan tertinggi yang di dalamnya ada para sesepuh tercinta seperti Habibana Dr. Salim Segaf Al Jufri, Dr. Hidayat Nur Wahid, Kang Sohibul Iman, Ph.D dan berderet nama Masyaikh lain; saya teringat satu kalimat lagi dari Rasulullah ﷺ saat Khalid membantai kaum Juhainah yang ditawarinya menyerah lalu dia didebat oleh ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, kemudian Khalid menyerapahinya.
“Jangan kalian mencela sahabatku. Jikapun kalian menginfakkan emas seberat Gunung Uhud, niscaya takkan menyamai satu genggam atau setengah genggam tepung mereka.”
Tapi pedang Allah yang terhunus tetaplah pedang Allah yang terhunus. Tapi Bima tetaplah Bima.
Saya mengajak diri saya ini untuk menghormati semua. Jika Bang FH hendak menempuh jalur hukum, biarlah beliau memperjuangkan apa yang diyakini menjadi haknya. Takkan berkurang hormat kita atas segala sumbangsihnya bagi dakwah ini. Tapi kita kader dakwah yang ada dalam jama’ah ini tahu, cinta tak pernah boleh menghalangi sikap adil, sebagaimana perbedaan sikap takkan menafikan cinta.
“Demi Allah aku bersaksi”, ujar ‘Ammar ibn Yasir yang berperang di sisi Sayyidina ‘Ali sementara Ummul Mukminin ‘Aisyah ada di seberang dalam Perang Jamal, “‘Aisyah adalah istri Rasulullah dan Ibu kita semua di dunia maupun di surga. Hanya saja sekarang Allah sedang menguji kita; apakah padaNya kita taat, atau kepadanya.”
Bang FH, engkau ujian bagi kami di sisi Qiyadah kami, dan kamipun adalah ujian bagimu. Semoga kita semua lulus dengan sempurna. Uhibbuka Fillah.
kader awam lagi biasa,
@salimafillah

LUBANG ANEH TELAN 25 TON IKAN



Bencana alam seperti longsor, banjir, gempa bumi, dan sebagainya banyak memberikan dampak yang luas bagi pekerja-pekerja seperti petani dan peternak hewan. Kehilangan lahan ataupun hewan peliharaan itu menjadi salah satu hal yang menyedihkan bagi mereka
 
Seperti yang dilansir The Sun, malang betul nasib salah satu peternak ikan asal Guanxi, Tiongkok, ini yang bernama Yang. Bagaimana tidak, di awal pekan akhir Maret kemarin ia mengalami hal yang tidak masuk akal lantaran menemukan sebuah lubang misterius yang berukuran raksasa dan muncul di tengah tambak ikan miliknya.

Dengan lubang berbentuk oval yang berukuran diameter sekitar 4-5 meter ini dan kedalaman yang  tidak dapat diukur membuat tambak ikannya kering dalam waktu semalam saja. Alhasil, ikan-ikan yang dipelihara selama ini hilang dengan jumlah banyak hingga mencapai 25 ton. Bingung dengan apa yang terjadi, sang peternak ikan hanya  bisa terdiam melihat lubang tambak yang timbul secara tiba-tiba.

“Aku pertama kali tahu ketinggian air turun pada pukul 04.00 pagi saat aku memeriksa tambak. Dan dalam waktu beberapa jam, tambak itu berubah seperti lapangan karena mengering. Airnya tersedot lubang. Pada pukul 09.00 pagi, hampir semua air dan ikan-ikanku hilang tersedot sinkhole,” kata Yang.
Meskipun belum dipastikan penyebabnya, para penggemar teori konspirasi sudah menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Mereka menerka lubang itu karena ulah alien yang muncul dari dalam Bumi.
Scott Waring, penulis situs UFO Sightings Daily, menduga lubang itu muncul karena keluar atau masuknya UFO. “Jika ini sebuah sinkhole, mengapa ini memiliki kemiringan sisi 90 derajat,” tulis dia.
Namun, Yang dan warga setempat menepis adanya ulah alien. 

Warga justru menyalahkan perusahaan tambang batu di dekat tambak ikan tersebut. Kejadian yang terjadi di Guanxi ini ternyata bukan yang pertama kali. Bulan lalu di sebuah jalan raya di Tiongkok juga terjadi kemunculan lubang raksasa ini yang menelan bus raya, mobil, serta rumah-rumah penduduk.

Penulis
Christiyana Caroline
Sumber:
http://m.liputan6.com/citizen6/

Walikota Risma terharu membaca surat untuk Presiden Jokowi

surat-siswa-untuk-presiden-jokowi

Rencana pengalihan pengelolaan sekolah SMA yang di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya ke Pemerintah Provinsi membuat kekhawatiran siswa SMP tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA, karena tidak memiliki biaya untuk sekolah.

"Ibu Wali Kota Risma, saya membacakan surat kekhawatiran teman saya yang tidak bisa melanjutkan ke SMA," ujar Vita Kristiana, siswi kelas 9 SMPK St Stanislaus Surabaya saat audensi dengan perwakilan siswa yang tergabung dalam organisasi Pelajar Surabaya (Orpes) dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di ruang sidang Wali Kota, gedung Balaikota Surabaya, Sabtu (26/3/2016).
Ketika membacakan surat dari temannya Orpes-nya dari SMP Negeri 24 Surabaya, mata Wali Kota Risma sempat berkaca-kaca.
Risma pun dibuat sedih mendengar isi surat tersebut. Usai surat itu dibacakan, Risma mengambil tisu yang ada di depannya dan mengusap matanya.
"Itu alamatnya di mana?" tanya Risma.
"Tidak ada alamatnya, Bu. Di suratnya hanya nama, kelas dan sekolahnya," jawa Vita.
Apa isi surat dari Zaqia Audiva, siswi kelas VII F SMP Negeri 24 Surabaya untuk Presiden Jokowi. Berikut curahan hati Zaqia yang ditulis di sobekan kertas buku dan dibacakan rekannya di hadapan Risma.


Kepada yang terhormat
Bapak Presiden jokowi

Saya mohon jangan suruh kita untuk membayar sekolah kita. Kalo sekolah ini disuruh membayar, saya nanti bisa putus sekolah karena saya cuma punya nenek yang biayai sekolah saya. saya takut nanti kalau nenek memaksakan diri untuk menyekolahkan saya, saya takut nanti nenek saya sakit dan....
Saya mohon jangan suruh kami bayar, nanti bagaimana saya bahagiakan nenek saya. Dan saya juga ingin membanggakan ayah saya yang ada di surga. Saya cuma punya nenek... Ibu saya sudah meninggalkan saya sejak saya kecil dan ayah saya juga meninggal dunia saat saya ada di kandungan. Saya cuma ingin jadi anak yang sukses di masa depan. Saya janji akan lebih giat belajar lagi.
Dan saya cuma ingin kado ultah pada tanggal 28 maret saya cuma ingin sekolah sampai saya sukses nanti. Saya mohon pak saya tidak ingin seperti anak2 yang tidak berpendidikan. Saat saya dewasa nanti saya janji akan menjadi orang yg sukses, saat ini saja nenek sudah susah mencari uang untuk saya sampai2 saat ini nenek sakit parah tapi dia masih berusaha mencari uang untuk saya. Jika nanti sekolah ini bayar, saya lebih memilih untuk putus sekolah daripada nenek saya nanti tersiksa. Tetapi hati kecil saya, saya ingin sukses dan dapat mengobati nenek yang sedang sakit kanker rahim.
Dan nanti saya juga dapat menunaikan haji nenek saya. Sekian dari saya. Jika ada kesalahan dalam berkata tolong dimaafkan dan dimaklumi...
Wassalammualaikum. wr. wb

ttd
Zaqia Audiva
Motto: Saya sedih kalau saya bisa putus sekolah. Ya Allah saya cuma ingin kado, bisa jadi anak yang sukses di masa depan.
Cita-citaku: Artis, atlet badminton, guru relawan, TNI-AD, Pengusaha sukses
Sumner : detik.com